Home / Politik dan Umum / Pemerintah Sematkan Gelar Pahlawan Kepada Empat Tokoh dan Puluhan Nakes Mendapat Bintang Jasa

politik-umum

Pemerintah Sematkan Gelar Pahlawan Kepada Empat Tokoh dan Puluhan Nakes Mendapat Bintang Jasa

Pemerintah Sematkan Gelar Pahlawan Kepada Empat Tokoh dan Puluhan Nakes Mendapat Bintang Jasa

Usmar Ismail, tokoh perfilman nasional, resmi dinyatakan sebagai pahlawan. Penyematan gelar pahlawan nasional dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Ist)


Jakarta - Presiden Joko Widodo menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh bangsa, termasuk Bapak Perfilman Nasional Usmar Ismail. Penyematan gelar pahlawan nasional dilakukan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional dilakukan lewat upacara di Istana Negara, Jakarta. Jokowi memimpin langsung prosesi tersebut.

Keempat orang yang memperoleh gelar pahlawan tersebut adalah Usmar Ismail, dari DKI Jakarta; Raden Aria Wangsakara, dari Banten; Tombolotutu, dari Sulawesi Tengah; dan Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur. 

Berikut profil keempat tokoh tersebut: 

Usmar Ismail, dari DKI Jakarta 

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi tanggal 20 Maret 1921. Usmar merupakan salah satu pelopor dalam kancah perfilman nasional dan internasional yang menunjukkan sumbangan terbesarnya tentang kepiawaian membuat industri perfilman di Indonesia menjadi maju. 

Kepeloporannya dalam membangun perfilman nasional yang diakui oleh dunia internasional merupakan kepeloporan dan prestasi yang patut dicatat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada tahun 1944, Usmar mendirikan kelompok sandiwara Maya yang juga turut menyebarluaskan berita proklamasi di masa kemerdekaan, Kemudian pada tahun 1950, pendiri perusahaan film pribumi bernama NV Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang kemudian membuat film Darah dan Doa (the long march of Siliwangi). Film ini dianggap sebagai film Indonesia pertama dan kemudian hari pertama pengambilan gambarnya ditetapkan sebagai Hari Film Indonesia. 

Tahun 1962, Usmar Ismail aktif membangun organisasi Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) di bawah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah kegiatan kebudayaan, pendidikan, dan penanaman nilai-nilai nasionalisme kepada masyarakat. Film-film buatan Umar Ismail mengajak dan menawarkan nilai-nilai nasionalisme seperti Darah dan Doa (1950), Enam Jam di Jogja (1961), Kafedo (1953), Lewat Djam Malam (1954), Pedjuang (1960), dan masih banyak lainnya. . Selain itu film Tamu Agung (1956) mendapatkan penghargaan film terbaik di Festival Film Asia Pasifik di Hongkong tahun 1956. Usmar wafat pada tanggal 2 Januari 1971 dan dimakamkan di Pekuburan Karet, Jakarta. 

Raden Aria Wangsakara, dari Banten Raden 

Aria Wangsakara di Sumedang tahun 1615. Wangsakara bukan hanya tokoh keagamaan dalam Kesultanan Banten pada masanya, tetapi juga tokoh politik dan pemimpin militer yang terus berjuang dalam semangat untuk mengusir mengusir. Melalui latar belakang perjuangannya semasa Kesultanan Banten semasa Sultan Abul Mufakhir dan Sultan Ageng Tirtayasa, Wangsakara menegaskan sebagai sosok yang turut berperan penting dalam melawan melawan (VOC). 

Pada 1636, Wangsakara diutus Sultan naik haji. Di Mekah, Wangsakara berhasil memperoleh surat pengakuan Banten oleh Syarif Mekah sebagai kepanjangan tangan dari otoritas politik Turki Utsmani (Ottoman). 

Sekembalinya ke Banten, Wangsakara dia diberi gelar Kiai Mas Haji Wasangraja. Tahun 1654 ketika terjadi peperangan di Batavia antara Kesultanan Banten dengan VOC, Raden Aria Wangsakara mewakili Kesultanan Banten sebagai juru runding yang menghasilkan kesepakatan penghentian perang. Daerah yang dikuasai masing-masing tetap dipertahankan. Tahun 1658-1659 ketika terjadi perang, Raden Aria Wangsakara mendapat mandat dari Sultan Ageng Tirtayasa untuk memimpin perang melawan VOC yang perjanjian pada perjanjian damai pada tanggal 5 Juli 1659. 

Pascaperang, Wangsakara mengubah strategi pertahanan dengan membuat dan kanal menjangkau daerah pedalaman Tangerang. Wangsakara wafat pada tanggal 15 Agustus 1681 dan dimakamkan di Lengkong, Pagedangan, Tangerang atau Taman Makam Pahlawan Kabupaten Tangerang. 

Tombolotutu, dari Sulawesi Tengah 

Tombolotutu lahir di, Sulawesi Tengah, pada tahun 1857. Tombolotutu awal dan awal adalah Belanda di Moutong. 

Tombolotutu memimpin dan memperjuangkan hak-hak rakyat Moutong yang dirampas sehingga terjadi pertempuran yang tidak hanya memakan banyak korban juga kerugian materiil. Tombolotutu konsisten konsistenan Belanda. la menolak “Lang Contract” sebuah perjanjian yang diajukan oleh Belanda karena dinilai merugikan masyarakat. Tombolotutu wafat pada 17 Februari 1901 dan dimakamkan di Desa Padang Kecamatan Toribulu, Moutong. Sulawesi Tengah.

Sultan Aji Muhammad Idris, dari Kalimantan Timur 

Sultan Aji Muhammad Idris lahir di Jembayan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 1667. Sultan Aji adalah tokoh pemersatu yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia. Melalui perubahan sistem pemerintahan menjadi kesultanan, Ia berusaha menjalin hubungan dan menyatukan kekuatan dengan berbagai kesultanan dalam menentang kolonialisme. 

Ketika VOC mulai menguasai kerajaan Kutai Kartanegara dan Kerajaan Pasir, Sultan Aji Muhammad Idris sebagai pangeran Kutai terus melakukan perlawanan. 

Sultan Aji Muhammad Idris konsisten mewujudkan visi mengusir kekuatan VOC dari Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Indonesia secara keseluruhan. Sultan Aji berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan terutama kerajaan-kerajaan Bugis seperti Wajo, Bone, dan Soppeng. Sultan Aji wafat pada tahun 1739 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Raja Wajo, Sulawesi Selatan.

Dalam upacara itu, Jokowi juga menyematkan Bintang Jasa Pratama kepada 223 tenaga kesehatan. Mendiang dokter RSUP Sanglah I Ketut Surya Negara dan perawat RSUP Dokter Sinatala Sucilia Indah menjadi perwakilan yang disebut dalam penyematan.

Selain itu, ada puluhan orang tenaga kesehatan yang mendapat gelar Bintang Jasa Nararya. Penghargaan itu diberikan kepada mendiang bidan Emialoina Lasia Carolin dan 76 orang nakes lainnya.

Pemberian gelar diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Gelar yang diberikan kepada sosok yang telah meninggal dunia dan dalam semasa hidupnya memberi sumbangsih besar bagi harkat dan martabat bangsa.

Salah satu syarat gelar Pahlawan Nasional adalah memimpin perjuangan senjata, politik, atau bidang lainnya dalam merebut, memperjuangkan, dan mengisi kemerdekaan.

Adapun gelar Bintang Jasa diberikan kepada sosok yang berjasa besar di suatu bidang atau peristiwa tertentu yang bermanfaat bagi keselamatan, kesejahteraan, dan kebesaran bangsa dan negara










Chinese (Simplified) English German Indonesian
Contact Us